Caleg Dan Siapa Yang Peduli Dengan Lingkungan
Pemilu 2009 sudah semakin dekat. Tirai masa kampanye resmi pun telah dibuka. Akan mencapai klimaksnya dalam beberapa hari mendatang. Para parpol dan calon legislatif (caleg) semakin intensif menawarkan berbagai visi dan janji untuk memikat hati pemilih.
Walaupun ada puluhan partai dengan ribuan caleg nampaknya isu yang diangkat relatif seragam dan terfokus pada isu sosial dan ekonomi seperti: pertumbuhan ekonomi, pengangguran dan lapangan kerja, mutu pendidikan, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. Sedikit, bahkan bisa dibilang tidak ada, yang mempunyai visi kebijakan lingkungan.
Padahal permasalahan lingkungan juga menjadi salah satu masalah pelik bagi negeri ini. Kejadian banjir, longsor, kerusakan dan kebakaran hutan, kerusakan terumbu karang dan lain sebagainya sudah menjadi ‘menu’ kita sehari-hari.
sekitar akhir tahun 90-an, sayup-sayup sempat terdengar terbentuknya Partai Hijau. Partai ini menyatakan akan punya dedikasi dan perhatian pada isu lingkungan. Namun, spirit pro lingkungan tersebut seperti menguap entah ke mana.
Isu seperti hutan kemasyarakatan tentu cukup atraktif bagi masyarakat desa hutan. Patut dicatat ada lebih puluhan ribu desa hutan di tanah air dengan puluhan juta rakyat yang hidupnya sangat tergantung pada eksistensi hutan. Sudah jelas bahwa sebenarnya isu lingkungan bisa dikelola sebagai keunggulan tambahan sebuah partai.Dan sayangnya hal ini tidak dilirik oleh satu partai pun.
Mari kita cermati bersama. Apakah ada partai yang mempunyai visi dan janji politik yang pro lingkungan. Bagi yang mengharapkan perbaikan dalam pengelolaan lingkungan di tanah air mungkin hanya bisa berharap. Siapa pun nanti yang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi wakil rakyat bisa pelan-pelan perhatian yang lebih serius terhadap lingkungan.
Tidak seperti yang terjadi di masa-masa silam. Salah satu penyebab hancurnya lingkungan adalah tiadanya komitmen politis yang memadai. Aspek lingkungan hanya menjadi prioritas ke sekian, di belakang tujuan-tujuan lain. Pada akhirnya, lingkunganlah yang akhirnya menjadi korban. Kebijakan lingkungan tidak harus selalu trade off (saling mengorbankan), dan bisa disinergikan dengan kebijakan sosial dan ekonomi.
Posted in Catatanku
Jangan
sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba.
Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan
sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak
dapat melupakannya...................




warok_suromenggolo March 23rd, 2009 at 2:23 pm
yup setuju jeng :)
mungkin masalah sosial mereka anggap cuma satu-satu nya masalah yang di punyai oleh bangsa ini.
sehingga mereka berlomba-lomba mengambil tema masalah ini untuk menarik simpati audiens.
padahal masalah lingkungan yang tidak segera diatasi akan berdampak juga pada masalah sosial
nice posting jeng :)
warok_suromenggolo’s yang terbaru oleh..singa tua berebut tahta
[Reply]